Rabu, 26 November 2025

LAPORAN HASIL ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN CARA PENEBARAN BENIH IKAN

 

LAPORAN HASIL ANALISIS EFEKTIVITAS PERCONTOHAN

CARA PENEBARAN BENIH IKAN

 

 

 


I.       Pendahuluan

a.       Latar Belakang

 

Kelompok Pembudidaya Ikan Berkat usaha merupakan salah satu kelompok pembudidaya ikan yang berlokasi di Desa Timbung, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin. Selama ini, kelompok ini menghadapi beberapa kendala dalam budidaya ikan, antara lain tingkat kematian benih yang tinggi pada saat penebaran, yang disebabkan oleh stres dan adaptasi yang kurang baik terhadap lingkungan baru.  Diharapkan, dengan cara penebaran yang tepat, tingkat kelangsungan hidup benih ikan dapat meningkat dan mengurangi kerugian akibat kematian benih. Kelompok Pembudidaya Ikan Berkat usaha. Percontohan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih ikan dan efisiensi budidaya ikan di kelompok tersebut.

b.     Tujuan

Tujuan dari percontohan ini adalah:

1.      Meningkatkan pemahaman dan kesadaran pembudidaya ikan tentang pentingnya cara penebaran benih ikan yang benar.

2.      Meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih ikan setelah penebaran.

3.      Meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya ikan.

c.     Metode Pelaksanaan

Percontohan ini dilaksanakan dengan membandingkan dua metode penebaran benih ikan:

1.      Metode 1 (Konvensional): Penebaran benih ikan langsung ke kolam tanpa proses aklimatisasi.

2.      Metode  (Aklimatisasi Bertahap): Benih ikan diaklimatisasi terlebih dahulu dengan cara mengapungkan wadah berisi benih di permukaan kolam selama beberapa waktu (± 30 menit) agar suhu air dalam wadah sama dengan suhu air kolam. Setelah itu, air kolam dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam wadah agar benih ikan beradaptasi dengan kualitas air kolam.

Kelompok pembudidaya ikan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerapkan metode penebaran konvensional dan kelompok yang menerapkan metode aklimatisasi bertahap.

 

diperoleh data sebagai berikut:

Parameter

Tingkat Kematian Benih (%)

Tingkat Kelangsungan Hidup (%)

Pertumbuhan Rata-rata (g/hari)

Metode 1 (Konvensional)

20

80

0,4

Metode 2 (Aklimatisasi Bertahap)

5

95

0,5

   

Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa metode penebaran benih ikan dengan aklimatisasi bertahap memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional. Tingkat kematian benih pada kelompok yang menerapkan metode aklimatisasi bertahap lebih rendah, dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan lebih tinggi. Pertumbuhan rata-rata ikan juga sedikit lebih baik pada kelompok yang menerapkan metode aklimatisasi bertahap.

II.           Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan , dapat disimpulkan bahwa percontohan cara penebaran benih ikan dengan metode aklimatisasi bertahap efektif meningkatkan tingkat kelangsungan hidup benih ikan pada Kelompok Pembudidaya Ikan Berkat usaha.

 

III.        Saran

Berdasarkan hasil percontohan dan pengamatan yang telah dilakukan, berikut adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan:

  • Diharapkan kepada seluruh pembudidaya ikan di Desa Timbung untuk menerapkan metode penebaran benih ikan dengan aklimatisasi bertahap dengan metode ini dapat mengurangi tingkat kematian benih dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup benih ikan setelah penebaran.
  • Penebaran benih ikan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu air tidak terlalu tinggi karena suhu air yang ekstrem dapat menyebabkan stres pada benih ikan dan meningkatkan risiko kematian.
  • Perhatikan kepadatan penebaran benih ikan sesuai dengan jenis ikan dan ukuran kolam.

Kepadatan penebaran yang terlalu tinggi dapat menyebabkan persaingan dalam mendapatkan makanan dan oksigen, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

  • Lakukan monitoring kualitas air kolam secara berkala, terutama parameter suhu, pH, dan oksigen terlarut,  kualitas air yang buruk dapat menyebabkan stres pada benih ikan dan meningkatkan risiko kematian.


IV.          DAFTAR PUSTAKA

·       Anonim. 2016. Tips pemilihan dan penebaran benih ikan. https://guramebogor.com

·       Djarijah, A. S. (2001). Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Kanisius.

·       Khairuman, K., & Amri, K. (2008). Budidaya Ikan Air Tawar Secara Intensif. Jakarta: Agromedia Pustaka.

·       Rahman, Rasimi. 2020. Makalah Aklimatisasi dan Aklimatisasi Ikan. https://www.scribd.com

Senin, 10 Juni 2019

SUMBER-SUMBER PROTEIN UNTUK PAKAN IKAN

            Budidaya ikan merupakan usaha untuk mendapatkan produksi setinggi-tingginya dengan biaya produksi yang seminimal mungkin. Berdasarkan sumbernya makanan ikan di bedakan antara lain : makanan alami,makanan tambahan,makanan buatan. Pemberian pakan buatan sebagai pelengkap dalam usaha budidaya di harapkan dpat mempercepat laju pertumbuhan ikan ,terutama ikan yang memikili nilai ekonomis tinggi.  Pada saat ini petani ikan sangat tergantug pada makanan ikan(pelet) buatan pabrik,di samping itu ada juga yang membuat pakan sendiri.
Pakan ikan merupakan komponen paling penting dalam usaha budidaya ikan, termasuk ikan lele. Pasalnya, harga pakan ikan tidak murah. Sebagian besar bahan bakunya diimpor.  Hal ini banyak dikeluhkan para peternak ikan.  Untuk menjawab kendala di atas, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara membuat pakan lele alternatif dan sebagai subtitusi pelet buatan pabrik.     
Dengan membuat pakan buatan diharapkan jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan akan terpenuhi setiap saat. Pakan buatan yang berkualitas baik harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
·                     Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan
·                     Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan
·                     Pakan mudah dicerna
·                     Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh
·                     Memiliki rasa yang disukai ikan
·                     Kandungan abunya rendah
·                     Tingkat efektivitasnya tinggi

Selain itu dapat juga diberikan pakan alternatif. Terdapat dua tipe pakan alternatif, yakni pakan alternatif yang berasal dari bahan-bahan utama dan pakan yang memanfaatkan bahan sisa-sisa.
Pakan dari bahan utama dibuat dari bahan-bahan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan lele. Sedangan pakan tambahan didapatkan dari bahan-bahan organik sisa atau yang harganya murah dan ketersediaanya melimpah.
            Hampir semua bahan pakan untuk budidaya ikan, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi yang sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang).  Disamping itu beberapa perlakuan yang berbeda  seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan juga akan turut mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.
            Bahan pakan sumber protein yang akan kita gunakan dalam proses penyusunan ransum untuk pakan ternak terlebih dahulu peternak mengetahui jumlah kandungan gizi yang bisa digunakan untuk bahan baku sebagai pakan ternak.
Hal tersebut menjadi sangat penting supaya ransum, yang akan kita berikan untuk pakan ternak dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan ternak. Faktor yang diperhatikan dari protein, energi, mineral dan juga vitamin.
Pakan dapat kita bedakan menjadi 3 kelompok diantaranya :
  • Kelompok hijauan yang sengaja untuk ditanam seperti : turi kaliandra, sentero, dan gamal. 
  • Kelompok hijauan sisa dari hasil pertanian yang bisa diperoleh dari daun – daunana           sebagai hasil sampingan misalnya : dauin pisang, daun nangka, ganging, ketela rambat, dan juga bungkil. 
  • Kelompok bahan yang berasal dari hewan seperti : tepung tulang, tepung ikan, dll.
Pakan alternatif pengganti pelet bisa kita buat dari berbagai bahan. Kandungan utama pelet yang paling dominan adalah tepung ikan. Tepung ikan digunakan karena kandungan proteinnya yang tinggi dan gizi lainnya. Namun harga tepung ikan ini mahal, oleh karena itu kita bisa mencampurnya dengan bahan-bahan lain yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan protein yang ada.  Untuk itu, ada banyak bahan alternatif yang bisa kita dapatkan, sebaiknya yang menjadi acuan adalah kandungan protein.
 
Pakan alternatif pengganti pelet bisa kita buat dari berbagai bahan. Kandungan utama pelet yang paling dominan adalah tepung ikan. Tepung ikan digunakan karena kandungan proteinnya yang tinggi dan gizi lainnya. Namun harga tepung ikan ini mahal, oleh karena itu kita bisa mencampurnya dengan bahan-bahan lain yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan protein yang ada.  Untuk itu, ada banyak bahan alternatif yang bisa kita dapatkan, sebaiknya yang menjadi acuan adalah kandungan protein.

Bahan baku pakan sebagai sumber protein hewani antara lain:

Tepung ikan
Oleh karena ikan merupakan bahan pangan manusia sebagai sumber protein, maka penggunaanya untuk pakan ternak sangat kompetitif. Kualitas tepung ikan sangat bervariasi tergantung dari jenis ikannya. Tepung ikan yang baik merupakan sumber protein yang baik.

Tepung ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik, mengingat kandungan asam amino esensialnya sangat menunjang. Namun harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga bahan baku ini hanya digunakan sebesar 5– 12% terhadap total komposisi. Bahan baku ikan yang dapat dibuat tepung ikan sangat beragam. Karena itu, kandungan proteinnya sangat tergantung pada jenis ikan yang digunakan. Umumnya ikan laut akan lebih baik dibandingkan dengan ikan darat jika digunakan untuk membuat tepung ikan ini.

Di pasaran banyak tersedia tepung ikan dengan berbagai kualitas dan harga. Tepung ikan impor biasnya berkualitas lebih baik daripada tepung ikan lokal. Keadaan ini desebabkan kualitas ikan yang digunakan lebih baik dan proses pengolannya sempurna. Mengenai harga, kita harus menghitung harga relatif atau harga per unit protein karena bisa jadi harga absolutnya atau harga per kilogramnya tinggi, tetapi jika dibandingkan dengan kandungan protein di dalamnya justru bisa lebih murah. 

Karena itu, sebelum memilih tepung ikan yang akan digunakan, terlebih dahulu tepung itu harus di tes di laboratorium untuk mengetahui kandungan nutrisinya. Ketika membeli tepung ikan harus berhati-hati karena banyak terjadi pemalsuan. Tepung ikan jika di uji di lab dengan menggunakan analisis proksimat diketahui nilai proteinnya tinggi. Namun sebetulnya protein yang tinggi tersebut didapat pengoplosan pupuk urea yang kita ketahui banyak mengandung nitrogen. Dalam analisis proksimat, nilai protein diketahui dengan mendapatkan kandungan nitrogennya.

Tepung darah
Darah yang akan dijadikan tepung dapat diperoleh di tempat penjagalan atau pemotongan hewan ruminansia seperti sapi. Proses pengumpulan darah harus dilakukan secara higienis atau bersih, tidak boleh tercampur dengan kotoran. Langkah selanjutnya sama dengan proses pembuatan tepung bulu unggas, yaitu perebusan dalam wajan tertutup dan diberi tekanan tinggi, kemudian ditiriskan, diiris-iris tipis dan dikeringkan. Setelah kering irisan darah digiling menjadi tepung.

Bahan pakan ini merupakan bahan sisa industri pemotongan hewan. Tepung darah mengandung protein dalam jumlah tinggi (± 80%), tetapi kandungan asam aminonya sangat tidak seimbang. Oleh karena itu, disamping palatabilitasnya rendah, tepung darah hanya dapat dipakai 2 - 5% dalam ransum.

Tepung Daging Tulang (Meat Bone Meal)
Merupakan hasil sisa industri pemotongan hewan. Kandungan nutrisinya sangat bervariasi tergantung jenis hewan yang dipotong dan cara pengolahannya.

Tepung Bulu Unggas
Dihasilkan dari bahan sisa industri Rumah Pemotongan Ayam (RPA) atau dari ayam-ayam yang tidak dapat dikonsumsi manusia. Karena struktur proteinnya keratin, maka bulu yang belum diproses tidak dapat dicerna oleh ternak. Dengan proses hidrolisis, keratin dipecah dengan merusak sistin yang terdapat dalam jumlah dalam protein, sehingga protein lebih bisa mudah larut.

Bahan pakan ini dapat digunakan dalam ransum ayam semua umur, tetapi karena kandungan Ca dan P tinggi, maka penggunaannya perlu dibatasi. Tepung bulu unggas dapat digunakan sebagai bahan baku pakan. Namun, untuk membuat tepung bulu unggas ini diperlukan proses lebih lanjut. Bulu unggas dibersihkan, kemudian dihidrolisis atau dimasak dengan suhu tinggi dan tekanan 3 atm. Setelah itu, dikembalikan ke tekana normal 1 atm, ditiriskan, dan dikeringkan, dengan suhu kurang dari 700C, lalu digiling halus. 

Kandungan proteinnya memang sangat tinggi, sekitar 85%. Namun unggas mempunyai keterbatasan untuk menyerap protein tersebut., sehingga akan banyak bagian yang terbuang melalui kotoran. Selain itu, kandungan asam aminonya relatif rendah, sehingga penggunaannya dalam pakan sebaiknya tidak lebih dari 2%. Bahkan untuk pakan anak unggas atau pakan starter tidak dianjurkan menggunakan bahan baku ini.

Tepung jerohan ayam
Tepung jeroan ayam merupakan sumber protein dan asam amino yang baik bagi ayam. Juga mengandung energi yang tinggi karena adanya lemak dalam jeroan.

Tepung keong mas
Tepung keong mas memiliki kandungan protein cukup tinggi, sekitar 52%. Jika memungkinkan untuk membuat tepung keong mas atau bahkan membudidayakan keong mas khusus untuk tepung, tentu akan sangat baik. Alasannya, proses reproduksi keong mas berjalan cepat dan proses pembuatan tepung keong mas relatif mudah.

Keong mas dicuci dengan menambahkan garam untuk menghilangkan lendir dan kotoran, kemudian dilakukan perebusan dalam air mendidih. Setelah itu cangkangnya dibuka, dicuci lagi, ditiriskan, dan diris-iris tipis. Irisan daging keong mas dijemur hingga kering dan digiling menjadi tepung. Sebelum menggunakan tepung keong mas produksi sendiri ditiriskan, ditiriskan, ditiriskan,untuk bahan baku pakan, sebaiknya dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kandungan nutrisinya secara pasti.

 Tepung limbah pengolahan udang
Bagian tubuh pengolahan udang yang dibuang oleh industri pengolahan udang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Bagian yang biasanya dibuang meliputi kulit dan kepala. Limbah ini direbus, dikeringkan, lalui digiling menjadi tepung. Kandungan protein kasarnya sekitar 35 – 45%. Artinya, kualitas tepung limbah udang ini sangat tergantung pada bagian tubuh udang yang menjadi limbah dan jenis udang yang digunakan.

Tepung limbah pengolahan ikan
Di industri pengolahan ikan, baik untuk pembuatan makanan setengah jadi, banyak bagian ikan yang tidak termanfaatkan. Bagian ikan yang sering tidak dimanfaatkan adalah kepala dan daging yang masih melekat di tulang ikan. Jika di sekitar lokasi pembuatan pakan terdapat industri pengolahan ikan, limbahnya sangat baik digunakan sebagai bahan baku pakan.

Tepung limbah pengolahan kodok
Cukup banyak limbah yang dihasilkan dari pengolahan kodok, karena yang dimanfaatkan hanya paha yang telah dibuang kulitnya. Bagian-bagian lainnya, seperti kepala, badan, dan kulit belum dimanfaatkan. Untuk menggunakannya sebagai bahan baku pakan, limbah ini cukup direbus, dikeringkan, dan digiling menjadi tepung. Untuk mendapatkan informasi kandungan nutrisinya uji di laboratorium perlu dilakukan.

Anonim.  2015.  Bahan baku pakan sebagai sumber protein.   Didownload dari laman http://ragamcarabeternak.blogspot.com.
Martarini, Dwityia. 0212.  Bahan pakan sumber proien.  Didownload dari laman http://dwitiya-martharini.blog.ugm.ac.id.
Kurniawa, Putra, S.  Membuat sendiri  pakan lele alternative.  Didownload dari laman https://alamtani.com